1. Perbedaan klausa dan kalimat
· Klausa : satuan
gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas
subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.
· Kalimat
: satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola
intonasi, dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
2. Pebedaan klausa bebas dan terikat
· Klausa bebas : klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat.
·
Klausa terikat : klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi
kalimat dan hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor.
3. Perbedaan kalimat tunggal dan majemuk adalah jumlah klausa yang ada di dalam kalimat.
·
Kalimat tunggal : kalimat yang terdiri dari satu pola kalimat, yaitu
terdiri dari satu subjek, satu predikat, dan bisa dilengkapi dengan
objek dan keterangan.
Contoh: kakak berlari
· Kalimat
majemuk : kalimat yang terdiri atas lebeih dari satu klausa. (dua pola
kalimat atau lebih). Contoh: ibu memasak nasi
Minggu, 27 April 2014
Kamis, 27 Februari 2014
TUGAS SEMANTIK
TUGAS SEMANTIK
DOSEN : Roziah, S.Pd., M.A
NAMA KELOMPOK : - Astuti D :
116211613
- Fitri Hani : 116211377
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Islam Riau
Pekanbaru
2014
ANALISIS
BENTUK PUISI DAN MAKNA TUNJUK AJAR MELAYU KARYA TENAS EFFENDY
1. Latar Belakang
Khasanah sastra Melayu, yaitu
ekspresi- ekspresi sastra berbahasa Melayu dan semua dialeknya, terdapat dalam
bentuk lisan dan tulis. Dalam bentuk lisan, awal kehadirannya tidak dapat
dientukan. Namun, apabila semua bentuk berbahasa yang khas dapat dimasukkan
kedalam lingkup luas pengertian sastra, maka kehadiran sastra lisan Melayu itu
diperkirakan sama usianya dengan kehadiran bahasa dan masyarakat Melayu itu
sendiri. Mantra Melayu, misalnya, sejak zaman pra-sejarah sudah digunakan untuk
mengobati orang yang sakit, dank arena bahasanya yang bersajak dan beriman,
dianggap oleh sejumlah ahli sebagai bentuk puisi yang paling purba. Demikian
pula nyanyian –nyanyian menidurkan anak, mite
atau cerita-ceriata yang dipercaya masyarakat sebagai hal yang bnar- benar
terjadi dan dianggap suci ( Depdiknas 2005:749), Legenda atau cerita rakyat
zaman dahulu kala yang berhubungan dengan pristiwa sejarah (Depdiknas 2005 :
651).
Dibandingkan dengan sastra lisan,
sastra melayu tertulis baru muncul setelah orang dan masyarakat melayu
berkenalan dengan huruf. Huruf yang
paling awal dikenal masyarakat nusantara ialah huruf palawa yang berasal dari
India Tenggara, dan digunakan untuk menuliskan bahasa Sanskerta. Huruf ini masuk ke nusantara bersama dengan penyebaran
agama Hindu, dan bukti tertua pemakaiannya ialah prasasti yang dipahatkan pada
yupa (batu tempat menambahkan hewan korban) dari abad ke-4, yang ditemukan di
Muara Kaman Kalimatan (Collins 2009:49).
Sejak awal abad ke- 20 penggunaan huruf
Arab-Melayu mulai merosot, terdesak oleh penggunaan huruf Latin yang di
perkenalkan bangsa colonial kenusab tara, dan diberlakukan sebagai huruf resmi
dilembaga- lembaga pendidikan yang mereka dirikan. Menurut Al azhar (2008),
penulis-penulis Melayumenggunakan huruf arab-Melayu bukanlah karena kebiasaan
belaka, tetapi terutama karena secara simboik ingin menegaskan persebatian
hubungan cultural Melayu itu sendiri dengan islam.Tenas Effendi adalah tokoh
yang berwibawa dan dihormati. Hal
ini lebih memotivasi penulis untuk
meneliti teks- teks yang dikarangnya, khususnya “Butir- butir Tunjuk Ajar
Melayu” yang berkaitan dengan sifat “Ikhlas dan Rela Berkorban”. Sifat –sifat
Ikhlas dan Rela Berkorba yang dikemukakan menggunakan bentuk- bentuk bahasa
khas sastra Melayu.
2. Masalah
Penelitian ini berangkat dari masalah
yang berkaitan dengan cirri-ciri tekstual tunjuk
ajar melayu karya tenas effendi, khsusnya topik “ iklas dan rela
berkorban”, serta kandungan isinya. Masalah tersebut dirumuskan sebagi berikut:
1. Bagaimanakah
bentuk puisi dalam tunjuk ajar melayu
karya tenas effendy khsusnya topik “iklas dan rela berkorban”?
2. Bagai
manakah makna puisi topik “iklas dan rela berkorban” dalam buku tunjuk ajar melayu karya tenas effendi?
3.
Tujuan
Penelitian
Adapun
tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan
dan menganalisis bentuk puisi dari penyajian tujuk ajar melayu karya tenas
effendi yang berkaitan dengan topik “Ikhlas Dan Rela Berkorban”.
2. Mendeskripsikan
dan menganalisis makna puisi topik “Ikhlas Dan Rela Berkorban” yang terdapat
dalam buku tunjuk ajar melayu karya tenas effendi.
4.Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
1.
Teknik
Analisis Data:
Data
yang terkumpul kemudian dianalisis dengan langkah dan cara (teknik) sebagai
berikut:
a. Mengelompokkan
dan menguraikan data yang berkaitan dengan pola bait, pola baris, serta
persajakan puisi-puisi topik “Ikhlas dan
Rela Berkorban” dalam buku Tunjuk
Ajar Melayu karya Tenas Effendi, berpedoman pada kerangka teoritis yang
diuraikan di atas.
b. Menelaah
isi (content analysis) puisi-puisi topik “Ikhlas
dan Rela Berkorban” dalam buku Tunjuk
Ajar Melayu karya Tenas Effendy untuk menemukan maknanya (mitos, tema, dan
amanatnya) sesuai dengan teori yang digunakan, dan kemudian mengelompokkan dan
menguraikannya secara sistematis.
2. Teknik Penelitian
Penelitian ini menggunakan teknik
hermeneutik, yaitu baca, catat, dan simpukan (Hamidy 2003: 24), yang dilakukan
tehadap buku Tunjuk Ajar Melayu karya
Tenas Effendy,khususnya topik, ikhlas dan Rela Berkorban”, dan buku- buku serta
tulisan- tulisan lain yang relevan dengan penelitian ini.
5.Simpulan
Berdasarkan analisis yang dilakukan
terdapat Tunjuk Ajar Melayu topik
“ikhlas dan Reka Berkorban” Karya Tenas Effendy, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1.
Bentuk puisi yang digunakan dalam teks
topik “Ikhlas dan Rela Berkorban” adalah bentuk_bentuk puisi tradisional Melayu
( lisan maupun tulisan), dengan ikatan formal berupa pola bait, berupa pola
baris dan persajakan yang ketat. Pola bait puisi-puisi topik “ Ikhlas dan Rela
Berkorban” terdiri dari ungkapan ( 2, 3, 4, 12, dan 16 baris), syair, dan
pantun, yang semuanya merupakan bentuk-bentuk puisi Melayu tradisional yang
berakar pada kelisanan, dan bait-bait dibangun melalui baris-baris dan
periodesitas yang juga seimbang. Pola baris puisi-puisi topic “ Ikhlas dan Rela
Berkorban” hampir seluruhnya terdiri dari 4 – 5 kata ( 96,6%), dan hanya
(28,3%). Hal ini menunjukkan bahwa puisi- puisi tersebut mempertimbangkan
keseimbangan jumlah kata dan suku kata yang juga ketat. Persajakan dalam puisi
–puisi topik “ Ikhlas dan Rela
Berkorban” semunya berupa pengulangan bunyi akhir.
2.
Makna puisi adalah pengertian yang
dikandung oleh puisi tersebut, dan puisi-puisi topik “Ikhlas dan Rela
Berkorban” menyampaikan makna bahwa manusia harus menanamkan, memelihara dan
mengamalkan sifat ikhlas dan rela berkorban dalam dirinya sebagai salah satu
cara untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Makna-makna tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam tiga hubungan, yaitu (a) sifat ikhlas dan rela berkorban
dalam kaitannya dengan individu manusia yang idel, (b) sifat ikhlas dan rela
berkorban sebagai perekat kehidupan social, dan (c) sifat ikhlas dan rela
berkorban dalam dengan hidup dan kehidupan yang berfaedah di dunia maupun
akhirat, selain itu, teks tersebut juga menyampaikan pengertian tentang ikhlas
dan rela berkorban itu sendiri.
Rabu, 26 Februari 2014
TUGAS 3 SEMANTIK
DESKRIPSI KEPALA
Kepala merupakan salah satu organ tubuh pada
manusia, di sekitar kepala saya terdapat rambut, telinga, mata, hidung, mulut,
alis, dan pipi. Kepala saya berbentuk bulat, mempunyai rambut panjang dan
lurus, alis mata yang tebal, mata saya yang sipit dan memakai kaca mata, pipi
yang tirus,bibir yang tipis, hidung yang pesek, dan mempunyai jerawat,
mempunyai lesung pipi.
Senin, 24 Februari 2014
TUGAS 4 SEMANTIK
GANTUNGAN
KUNCI
Pengertian : Sebuah gantungan kunci berwarna
pink merupakan gantungan yang sangat unikyang berbentuk anggur.
Konsep : Bahwa gantungan kunci
berbentuk anggur yang ada pada pikiran manusia dapat di tuangkan melalui
ungkapan.
Definisi : Gantungan kunci berbentuk
anggur dapat di ungkapkan melalui
pengertian dan konsepnya bahwa gantungan kunci dapat manfaatkan pada gantungan
kunci.
Maksud : Suatu yang dituangkan melalui
pengertian dan definisi gantungan kunci dapat di gunakan untuk permainan kunci
lemari, sepada motor dan lainnya.
Tujuan :
Sesuatu yang di inginkan akan tercapai pada pengertian, definisi, konsep, dan
maksud. Gantunguan kunci tujuan nya supaya tidak hilang kunci yang akn diberi
permainan.
Rabu, 19 Februari 2014
TUGAS 2 SEMANTIK CERPEN
PENCURI
ITU LARI
Pada malam selasa terjadi pencurian dirumah tetangga
saya, pencurian itu terjadi pada tengah malam ketika semua warga dikampung saya
sudah pada tidur. Pencuri itu masuk melalui pintu belakang rumahnya. Pencuri
itu berniat untuk mengambil barang-barang yang berharga dirumah itu. Salah satu
anak pemilik rumah itu terbangun kita mendenggar suara diluar kamarnya. Ketika
itu anak pemilik rumah tersebut merasa gelisah lalu anak itu keluar dari
kamarnya untuk melihat dari mana sumber suara itu berbunyi, ternyata suara itu
berasal dari dapur rumahnya pencuri itu sedang berbisik-bisik bersama temannya.
Lalu, anak itu pun berteriak minta tolong. Ketika anak itu minta tolong pencuri
itu lari. Terbangun orangtua anak tersebut. Warga pun mendenggar suara orang
minta tolong, warga pun pada keluar mendenggar suara minta tolong ada pencuri.
Ketika itu warga langsung berkejaran untuk mengejar pencuri itu. Saat itu
pencuri itu berusaha lari menggunakan sepeda motor. Tapi hal itu telah
terlambat karena warga telah dekat dan usah pencuri itu untuk lari sia-sia.
Karena warga berhasil menangkap kedua pencuri itu. Warga pun langsung membawa
kedua pencuri itu kekantor polisi.
PENCURI
ITU BERLARI
Pada hari senen kemaren ada seorang ibu-ibu pergi
kepasar, ibu-ibu itu memakai perhiasan, ketika
ibu itu pakir ada dua orang
lelaki yang mengikutinya dari belakang orang tersebut ingin mencuri perhiasan
ibu itu. Ketika ibu itu membeli cabe tiba-tiba pencuri menarik gelang ibu itu dan membawa perhiasannya berlari. Pencuri
itu berlari didalam pasar. Para ibu-ibu menjadi tertuju melihat pencuri itu
berlari di pasar. Pada saat itu keramaian dipasar menjadi takut karena telah
terjadi pencurian berupa perhiasan. Para bapak-bapak yang ada dipasar mengejar
pencuri itu didalam pasar. Ibu-ibu yang menjadi korban pencurian menjadi
tarauma ketika itu terjadi pencurian perhiasan. Ketika itu pencuri yang berlari
dipasar. Saat itu pencuri itu berusaha berlari menggunakan sepeda motor. Tapi
hal itu telah terlambat karena para penjual telah dekat dan usah pencuri itu
untuk berlari sia-sia. Karena para penjual berhasil menangkap kedua pencuri
itu. Bapak-bapak yang berjualan pun
langsung membawa kedua pencuri itu kekantor polisi.
Langganan:
Postingan (Atom)
