MAKALAH
TEORI-TEORI SINTAKSIS MUTAKHIR
DISUSUN OLEH:
Kelompok 1
Ade Saputra
Astuti B
Evi Susanti
Fitri Hani
Hespi Depita
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis
ucapkan kehadirat
Allah Swt, berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah sintaksis yang berjudul
Teori-teori Sintaksis Mutakhir. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sintaksis
Bahasa Indonesia Lanjut.
Dalam
penyusunan makalah ini,
penulis mendapat tantangan dan
hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah Yang Maha Esa.
Ucapan terima kasih kepada Buk Ermawati Sulaiman, S.Pd., M.A. yang telah
memberi tugas ini, dengan tugas ini penulis mendapatkan banyak ilmu yang belum
penulis ketahui sebelumnya.
Pekanbaru, Mei 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..................................................................................
i
DAFTAR
ISI.................................................................................................
ii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................
1
1.1
Latar Belakang.........................................................................................
1
1.2
Rumusan Masalah....................................................................................
1
1.3
Tujuan......................................................................................................
1
BAB
II PEMBAHASAN.............................................................................
2
2.1
Teori Sintaksis Struktural.........................................................................
2
2.2
Teori Sintaksis Tata Bahasa Generatif Transformasional........................ 4
2.3 Teori Sintaksis Tata Bahasa Kasus.........................................................
6
2.4
Teori Sintaksis Tata Bahasa Lexicase......................................................
9
2.5
Teori Sintaksis Tata Bahasa Relasional....................................................
12
2.6
Teori Sintaksis Tata Bahasa Tagmemik...................................................
14
BAB
III PENUTUP......................................................................................
18
3.1
Simpulan..................................................................................................
18
3.2
Saran........................................................................................................
19
DAFTAR
PUSTAKA...................................................................................
20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap aliran linguistik atau teori linguistik mempunyai
cara pandangan tersendiri terhadap bahasa. Cara memandang dan menelaah bahasa
antara aliran atau teori linguistik yang satu berbeda dengan aliran atau teori
yang lain aliran tradisional mempunyai konsep sendiri dalam memahami dan
menelaah bahasa. Demikian juga dengan aliran-aliran linguistik lainnya, seperti
aliran struktural, tagmemik, transformasi, dan lain-lain. Aliran-aliran
lingustik itu juga mempunyai konsep tersendiri dalam memahami dan menelaah
bahasa. Konsep inilah yang menyebabkan adanya cara menganalisis sintaksis yang
berbeda.
Setelah
anda memahami dan menguasai makalah ini diharapkan anda akan memperoleh dua
manfaat, yaitu manfaat praktis dan manfaat teoritis. Manfaat teoritis berupa
semakin meningkatnya pengetahuan anda mengenai berbagai teori sintaksis dan
cara penguraiannya serta sekaligus untuk mengembangkan teori tersebut
berdasarkan data bahasa yang anda jumpai. Manfaat praktis yang anda dapatkan
ialah kemampuan anda membedakan berbagai teori-teori sintaksis mutakhir.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
penulis kemukakan di atas maka masalah penelitian
ini sebagai berikut. Bagaimanakah teori-teori sintaksis mutakhir?
1.3 Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahuan teori-teori sintaksis mutakhir.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI-TEORI SINTAKSIS
MUTAKHIR
2.1
Teori
Sintaksis Struktural
1.
Prinsip-prinsip
Sintaksis Struktural
Menurut
Lyons (dalam Ba’dulu, 2005:61), tata bahasa struktural pada umumnya dan
sintaksis struktural pada khususnya didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
a)
Prioritas
Bahasa Lisan
Linguis struktural berpendapat bahwa bahasa lisan
adalah primer dan bahasa tulisan pada dasarnya adalah alat untuk
merepresentasikan bahasa lisan dalam medium lain. Prinsip dari prioritas bahasa
lisan lebih tua dan lebih tersebar luas dibanding tulisan.
b)
Linguistik
adalah Ilmu Pengetahuan Deskriptif, Bukan Preskriptif
Setiap bentuk bahasa yang berbeda dari segi sosial
dan regional mempunyai standar kemurnian dan kebenarannya sendiri yang melekat
padanya. Tugas pertama linguis adalah untuk memerikan cara orang sesungguhnya
menggunakan (dan menuliskan) bahasanya, bukan untuk menetapkan bagaimana mereka
seharusnya berbicara dan menulis.
c)
Linguis
Tertarik Pada Semua Bahasa
Perhatian linguis terhadap semua bahasa berasal dari
tujuan penyelidikannya yang telah dinyatakan, yaitu pembentukan teori ilmiah
dari struktur bahasa manusia.
d)
Prioritas
Pemerian Sinkronis
Telaah sinkronik bahsa dimaksudkan pemerian akan
status tertentu bahas tersebut (pada titik tertentu dalam masa). Perlu disadari
bahwa pemerian sinkronik tidak terbatas pada analisis bahasa lisan modern.
e)
Pendekatan
Struktural
Hal ini berarti bahwa setiap bahasa dipandang
sebagai suatu sistem yang saling berhubungan), yang unsur-unsurnya seperti
bunyi, kata, dan sebagainya.
f)
Langue
dan Parole
Ujaran-ujaran suatu bahasa tertentu dapat
dideskripsikan secara tidak langsung, pada saat ini sangat tidak memandai, atas
dasar pemerian sebelumnya dari kalimat-kalimat bahasa tersebut.
2.
Konsep-konsep
Dasar Sintaksis Struktural
a)
Klasifikasi
Kata
Pengetahuan tentang klasifikasi kata dalam suatu
bahasa merupakan syarat mutlak bagi telaah sintaksis bahasa tersebut. Ada jenis
kata yang didefinisikan berdasarkan makna, dan ada pula jenis kata yang
didefinisikan berdasarkan fungsi.
b)
Konstruksi
Sintaksis
Kontruksi sintaksis merupakan proses pengaturan
kata-kata atau kelompok-kelompok kata menjadi kesatuan yang bermakna: dan
konstruksi sintaksis terdiri atas frasa, klausa, dan kalimat.
c)
Konstituen
Konstituen adalah suatu satuan sintaksis yang
berkombinasi dengan satuan sintaksis hanya untuk membentuk suatu kontruksi.
Dengan kata lain, Konstituen adalah bagian atau komponen dari struktur.
d)
Analisis
Konstituen Langsung
Analisis konstituen langsung merupakan teknik
analisis yang ampuh. Menurut teknik ini, suatu kontruksi selalu dianalisis ke
dalam dua konstituen langsungnya.
3.
Organisasi
Sintaksis Struktural
Sintaksis struktural terdiri atas tiga komponen
utama, yaitu (1) leksikon, (2) konstruksi sintaksis, dan (3) kaidah-kaidah
sintaksis. Leksikon adalah daftar semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa
disertai dengan kelas atau kategori dan maknanya.
2.2
Teori
Sintaksis Tata Bahasa Generatif Transformasional
1.
Latar
Belakang Sejarahnya
Pada
awalnya, Chomsky juga termasuk golongan strukturalis. Bersama dengan gurunya,
Zellig Harris, ia membangun dan mengembangkan tata bahasa struktur frasa.
Metode linguistik struktural, yaitu metode induktif, tidak mampu menjangkau
fakta-fakta sintaksis. Menurut Chomsky, teori linguistik struktural tidak mampu
memecahkan berbagai masalah kebahasaan, utamanya dalam bidang sintaksis.
Chomsky memperkenalkan teori tata bahasa
generatif transformasional (TGT) sebagai reaksi terhadapnya.
2.
Prinsip-prinsip
TGT
Menurut
Chomsky (dalam Ba’dulu, 2005:68), teori sintaksis TGT adalah teori tentang
kompetensi. Kompetensi hendaknya
dibedakan dengan performasi. Kompentesi
adalah pengetahuan penutur asli mengenai bahasanya, sedangkan performasi adalah
pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam situasi-situasi nyata. Teori
linguistik bersifat mentalistik. Tata bahasa suatu bahasa berusaha memerikan
kompetensi intrinsic penutur-pendengar yang ideal.
3.
Konsep-konsep
Dasar TGT
a.
Kompetensi
Kompetensi
adalah pengetahuan penutur akan bahasanya, system kaidah yang dikuasainya dan
yang menentukan hubungan anatara bunyi dan makna bagi kebanyakan kalimat.
Pengetahuan yang didasari tentang kaidah-kaidah yang digunakannya secara
terus-menerus dalam berbicara atau menyimak, menulis, atau membaca, dan monolog
internal.
b.
Performansi
Performansikan
penutur-pendengar adalah pengetahuannya akan tata bahasa yang menentukan
hubungan intrinsik antara bunyi dan makna setiap kalimat. Performansi adalah
refleksi langsung dari kompetensi hanya dalam kondisi-kondisi yang ideal, yakni
penutur-pendengar dalam masyarakat bahasa yang homogen. Chomsky (dalam Ba’dulu,
2005:70).
c.
Strukrural
Batin Dan Struktural Lahir
Istilah
struktur batin digunakan untuk merujuk kepada representasikan mental yang
mendasari suatu ujaran. Menurut Chomsky (dalam Ba’dulu, 2005:71), konsep struktur batin dan struktur lahir dapat ditelusuri kembali kepada tata bahasa Port-Royal Menurut teori Port-Royal. Struktur lahir bersesuaian dengan bunyi, yaitu aspek fisik bahasa;
tetapi ketika sinyal dihasilkan dengan struktur lahirnya, maka di situ
berlangsung analisis mental yang sesuai dengan apa yang kita sebut. Struktur batin, yaitu struktur formal
yang menghubungkan secara langsung bukan kepada bunyi, melainkan kepada makna.
d.
Kaidah
Struktural Frasa
Kaidah struktur frasa adalah serangkaian pernyataan
yang menjelaskan, antara lain, tentang urutan unsur-unsur yang mungkin dalam
suatu kalimat atau kelompok kata.
e.
Pemarkah
Frasa
Menurut
Crystal (dalam Ba’dulu, 2005:72), pemarkah frasa adalah istilah yang digunakan
dalam linguistik generatif untuk merujuk kepada representasi struktur kalimat
dalam kaitannya dengan kurung berlabel, sebagaimana diberikan oleh
kaidah-kaidah tata bahasa.
f.
Transformasi
Menurut Crystal (dalam Ba’dulu, 2005:73),
transformasi adalah suatu operasi linguistis formal yang memungkinkan dua
tingkatan representasi struktur untuk ditempatkan dalam korespondensi. Kaidah
transformasional (KT) terdiri atas gugus lambang yang ditulis kembali sebagai
gugus lain, menurut konvensi-konvensi tertentu.
4.
Organisasi
Sintaksis TGT
Chomsky (dalam
Ba’dulu, 2005:75) mengemukakan bahwa TGT merupakan sistem kaidah yang dapat
digunakan untuk menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. sistem
kaidah ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga komponen utama, yaitu (1) komponen
sintaksis, (2) komponen fonologis, dan (3) komponen semantis. Tiap-tiap
komponen ini memanfaatkan informasi yang disiapkan oleh komponen sintaksis
menyangkut formatif.
2.3
Teori Sintaksis Tata Bahasa Kasus
1.
Prinsip-prinsip
Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus pertama-tama
dikenalkan oleh Charles Fillmore. Merupakan modifikasi berat dari teori TGT
standar yang mendasarkan diri pada perbedaan yang jelas antara struktur bathin
dengan struktur lahir. Tarigan (2009:59) menyatakan bahwa tata bahasa kasus
adalah suatu modifikasi dari teori tata bahasa transformasi yang memperkenalkan
kerangka kerja konseptual hubungan-hubungan kasus dari tata bahasa tradisional,
tetapi memelihara serta mempertahankan pembedaan antara struktur permukaan dari
tata bahasa generatif (“dalam” berarti semantic deep). Fillmore (dalam Ba’dulu,
2005:77) menambahkan beberapa prinsip atau asumsi penting sebagai berikut:
a. Sintaksis
mempunyai kedudukan sentral dalam tata bahasa
b. Kategori-kategori
tersembunyi (covert categories) memainkan peranan yang penting
c. Struktur
dasar kalimat
2.
Konsep-konsep
Dasar Teori Sintaksis Tata Bahasa Kasus
a. Kasus
Konsep-konsep dasar yang dibahas terdahulu juga
berlaku bagi sintaksis. Namun, ada satu konsep dasar, yaitu kasus yang
dimasukkan kedalam komponen basis, untuk memperoleh struktur bathin yang lebih dalam.
Tarigan (209:54) menyatakan bahwa kasus merupakan suatu kategori gramatikal
yang menunjukkan fungsi suatu nomina atau frasa nomina dalam suatu kalimat.
Fillmore (dalam Ba’dulu, 2005:78)
menyarankan daftar minimal dari enam kasus dan setiap kasus diusulkan sebagai
suatu kesemestaan linguistis, yang ditemukan dalam bentuk tertentu dalam semua
bahasa ilmiah. Kasus-kasus tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Agentif
2.
Instrumental
3.
Datif
4.
Faktititif
5.
Lokatif
6.
Objektif
Fillmore (dalam Ba’dulu, 2005:79) juga menyebutkan
kedua kasus berikut:
1. Benefaktif
2. Komitatif
b. Kerangka
Kasus
Verba diseleksi menurut lingkungan kasus yang
disiapkan kalimat. Lingkungan kasus ini disebut kerangka kasus (case frame).
Setiap verba hendaknya dikaitkan dengan kasus yang dapat menyertai atau muncul
bersamanya.
c. Modalitas
dan Preposisi
Struktur dasar kalimat terdiri atas dua komponen,
yaitu (1) proposisui dan (2) modalitas . proposisi adalah
seperangkat hubungan yang melibatkan verba dan nomina, sedangkan modalitas
merupakan komponen yang mencakup negasi, tense, modus, dan aspek.dengan
demikian, struktur kalimat dapat dinyatakan sebagai berikut.
S àM (odalitas) + P (roposisi)
3.
Kaidah
–kaidah Tata Bahasa Kasus
a. S
à
M P
b. Pà
V C1C2... Cn
c. K
à
FN
d. FN
à
Det N
Keterangan
:
S
- Sentense (kalimat)
M
- modalitas
P
- Proposisi
V
- Verba
C
- Kategori Kasus
FN
- Frasa Nomina
Dt
- Determinator
N
– Nomina
4.
Organisasi
Sintaksis TK
Organisasi sintaksis TK hampir sama dengan
organisasai sintaksis TGT; hanya bedanya, Fillmore memasukkan konsep kasus
kedalam komponen basis. Komponen basis ini terdiri atas unsur-unsur berlabel secara semantis yang tidak
berurutan. Struktur semantis lalu diubah menjadi struktur lahir dengan
serangkaian transformasi, beberapa diantaranya menciptakan subjek, objek, dan
objek tak langsung.
2.4 Teori Sintaksis
Tata Bahasa Lexicase
1.
Prinsip-Prinsip
Tata Bahasa Lexicase
Tata bahasa lexiacse pertama dicetuskan oleh Stanley
Starosta dalam bukunya the case for lexicase: an outline of lexicase
gramatikal theory dalam tahun 1988. Sebenarnya
lexicase juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari TGT. Oleh karena itu,
maka prinsip-prinsip TGT juga berlaku bagi lexicase, namun ada
perbedaan-perbedaan di sana-sini.
Perbedaan menonjol terletak pada tingkatan analisis. Jika TGT mengenal dua
tingkatan analisis,yaitu tingkatan struktur batin dan tingkatan struktur lahir,
maka Lexicase hanya mengenal satu tingkatan analisis saja.
2. Konsep-Konsep
Dasar Tata Bahasa Lecicase
Konsep-konsep dasar TGT juga digunakan dalam tata
bahasa lexicase, kecuali struktur batin, mekanisme
transformasi,dan struktur lahir. Lexicase
memperkenalkan dua konsep dasar,yaitu (1) bentuk kasus dan (2)
relasi kasus yang akan dibahas berikut.
a.
Bentuk-Bentuk
Kasus
Menurut Starosta (dalam Ba’dulu, 2005:90), setiap
bahasa mempunyai sekurang-kurangnya bentuk kasus
nominatif [+NM] (struktur lahir
subjek gramatikal) dan bentuk akusatif
[+AC] (struktur lahir non-subjek).
b.
Relasi
Kasus Atau Peran Kasus
Batasan relasi kasus (CR) merupakan batasan
internasional yang berarti bahwa setiap relasi kasus diberi batasan dalam
kaitannya dengan ciri semantis, yaitu tujuannya, batasan ini maksudkan
untuk menjelaskan struktur internal klausa dan relasi sintaksis yang terdapat
diantara klausa.
Relasi kasus adalah relasi sintaksis yang dikontrak
oleh verba dengan satu actant ayau lebih. Menurut Anderson (dalam Ba’dulu,
2005:92), relasi kasus adalah relasi gramatikal yang dikontrak oleh nomina yang
mengungkapkan sifat partisipasinya dalam proses status yang dinyatakan dalam
kalimat. Manifestasi relasi kasus (pemarkah kasus) dapat dikelompokkan ke dalam
satu himpunan bentuk kasus, yang diambil dari himpunan universal yang terbatas.
Starosta (dalam Ba’dulu, 2005:92) mengemukakan daftar relasi kasus sintaksis
sebagai berikut:
1. Patient
[+PAT]
Istilah patient telah digunakan oleh beberapa
linguis sebagai pengganti relasi kasus objektif. Relasi kasus objektif adalah
adalah kasus yang paling netral ditinjau dari segi simantis, yaitu kasus
sesuatu yang dapat dinyatakan oleh nomina yang perannya dalam aksi atau keadaan
yang dinyatakan oleh verba, konsep yang dibatasi pada hal-hal yang
dipengaruhioleh aksi atau keadaan yang dinyatakan oleh verba.
2. Agent
[+A]
Agent adalah penyebab tak langsung aksi dari verba
(starosta,1978:478). Dalam sistem lexicase,agent tidak pernah muncul sendirian.
Agent harus selalu muncul bersama patient,karena dalam tata bahasa lexicase
setiap kalimat mengandung sekurang-kurangnya satu patient (kecuali verba
meterologis).
3. Benefit
[+BEN]
Relasi kasus bebefit adalah relasi yang dari sesuatu
untuk keuntungannya atau kepentingannya suatu aksi dilakukan,atau yang untuk
kepentingannya suatu keadaan yang terjadi,atau yang diberikan sebagai pengganti
untuk sesuatu yang lain,atau alasan atau tujuan untuk suatu aksi dilaksanakan
Starosta (dalam Ba’dulu, 2005:95).
4. Experiencer
[+EXP]
Cool (dalam Ba’dulu, 2005:95) , mendefinisikan experiencer
sebagai kasus yang diperlukan oleh suatu
verba eksperiensial yang memerinci penderita dari peristiwa psikologis atau
sensasi, emosi, atau kognisi.
5. Locus
[+LOC]
Dalam tata bahasa lexicase baik lokasi maupun arah
dicakup oleh relasi kasus ini, sehingga tidak perlu menetapkan relasi-relasi
kasus Source, Goal, atau Path secara terpisah.
6. Place
[+PLC]
Relasi kasus Place mengidentifikasikan setting dari
aksi atau keadaan secara keseluruhan.
7. Instrumen
Relasi kasus ini menyatakan kekuatan atau objek tak
bernyawa, yang secara kausal terlibat dalam aksi atau keadaan yang dinyatakan
oleh verba Fillmore (dalam Ba’dulu, 2005:97).
8. Manner
[+MAN]
Relasi kasus manner ditafsirkan memberikan jalan
,cara,atau kondisi dimana suatu aksi dilaksanakan Starosta (dalam Ba’dulu,
2005:98). Relasi kasus manner di ungkapkan dengan frasa preposisi dengan with dan by.
9. Time
[+Time]
Relasi kasus time terdapat di antara predikat dan
actants yang menyatakan waktu atau lamanya.
3.
Organisasi
Tata Bahasa Lexicase
Bahasa lexicase terdiri atas: (1) komponen basis
yang berbentuk dari seperangkat kaidah struktur frasa (KSF), (2) leksikon, dan
(3) komponen fonologis. Kaidah-kaidah struktur frasa ini mencakup
konstituen-konstituen sintaksis.dan semua kategori gramatikal seperti imperatif,
negatif, kata bantu, dan pertanyaan dijadikan sebagai ciri-ciri dari bukti
leksikal. Komponen kedua yaitu laksikon, mengandung beberapa jenis kaidah
disertai dengan daftar entri leksikal yang mewakili akar (kata) dan stem.
2.5
Teori Sintaksis Tata Bahasa Relasional
1.Pinsip-prinsip
Tata Bahasa Relasional
Prinsip-prinsip nya adalah sebagai berikut:
a. Relasi
–relasi gramatikal seperti subjek, objek tak langsung, dan relasi-relasi
lainnya diperlukan untuk mencapai tiga tujuan teori linguistik,yaitu: (1) untuk
memformulasikan kesemestaan linguistik, (2) untuk memberi ciri kepada kelas
kontruksi gramatikalyang ditemukan dalam bahasa-bahasa alamiah, dan (3) untuk
membentuk tata bahasa yang memadai dan berwawasan penuh dari bahasa-bahasa
individual;
b. Relasi-relasi
gramatikal tidak dapt diberi batasan dalam kaitanya dengan konsep-konsep
lain,seperti urutan kata,konfigurasi struktur frasa,atau pemarkahan
kausu,melainkan harus dipandangsebagai unsur-unsur mendasar dari teori
linguistik;
c. Minimal
ada tuga hal yang harus dirincidalam refresentasi sintaksis,yaitu:
(1)unsur-unsur mana yang menyandang relasi gramatikal terhadap unsur-unsurlain,
(2) relasi gramatikal mana yang disandang oleh setiap unsur terhadap unsur-
unsur lainnya,dan (3) tingkat mana setiap unsur menyandang relasi gramatikal
terhadap unsur- unsur lainnya.
2.
Konsep-konsep
Dasar Tata Bahasa Relasional
a.
Relasi
Gramatikal
b.
Jaringan
Relasi ( Relation- Network )
3.
Kaidah–kaidah
Tata Bahasa Relasional
Ada beberapa kaidah yang telah dirumuskan oleh
penganut teori tata bahasa relasional
antara lain, adalah sebagai berikut Perlmutter (dalam Ba’dulu,
2005:105):
a.
The
I – Advancement Exclusivenes Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa suatu klausa tertentu hanya dapat mengalami datu
pengendapan ke I;
b.
The
Final I Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa setiap klausa dasar harus mempunyai sebuah arc- I dalam
stratum akhir;
c.
The
Nuclear Dummy Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa unsur ‘dummy’ suatu unsur abstrak yang mewakili suatu
kategori yang biasanya dilambangkan dengan
tidak dapat mengepalai arc dengan sinyal –R
selain dari 1 dan 2;
d.
The
Relationer Succession Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa sebuah unsur ‘ascendee’ (unsur yang ditingkatkan
)menyandang relasi gramatikal penerima dari mana unsur itu ditingkatkan;
e.
The
Host Limitation Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa hanya nominal yang menyandang relasi term yang dapat
bertindak sebagai penerima peningkat;
f.
The
Stratal Uniqueness Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa tidak boleh dari satu nominal yang dapat mengepalai arc
dengan sebuah sinyal–R dari term tertentu dalam stratum tertentu;
g.
The
Oblique Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa suatu unsur terikat yang menyandang relasi oblik tetap
menyandang relasi itu dalam stratum awal;
h.
The
Motivated Chomage Law
Kaidah
ini menyatakan bahwa chomeur tidak diciptakan secara spontan, melainkan sebagai
hasil daei mengedepanan,peningkatan atau kelahiran ‘dummy’;
i.
The
Chomeur Advancement Ban
Kaidah ini menyatakan
bahwa chomeur tidak dapat dikedepankan.
2.6 Teori Sintaksis
Tata Bahasa Tagmemik
1. Prinsip-prinsip Tata Bahasa Tagmemik
a. Bahasa sebagai tingkah laku manusia
Bahasa adalah bagian
integral tingkah-laku manusia. Ini berarti bahwa bahasa dapat dianalisis dan
dipahami sebaik-baiknya sebagai satu aspek dari tingkah laku manusia. Teori
Tagmemik agak unik karena kebanyakan prinsip dasarnya dinyatakan berlaku bagi
semua tingkah laku manusia, termasuk bahasa. Karena itu, tagmemik menolak
pandangan bahasa yang mentalistik. Selain fungsi simbolis atau fungsi
representasional, bahasa juga memunyai fungsi komunikatif yang sangat penting.
b. Semua tingkah laku purposif, termasuk bahasa, muncul
dalam satuan-satuan atau “kepingan-kepingan”
Suatu satuan dapat
ditentukan menurut ciri-ciri pembeda yang mengkontraskannya dengan
satuan-satuan lain dalam kelas, gugus, atau sistem. Satuan itu dapat berbeda
dalam bentuk fisiknya dalam batas-batas tertentu.
c. Pentingnya konteks
Satuan-satuan tidak
terjadi dalam isolasi, satuan-sataun itu
terjadi dalam konteks. Hal ini berarti bahwa faktor-faktor penyebab bagi
variabel dapat ditemukan dalam konteks.
d. Hierarki, tonggak dari teori tagmemik
Hierarki di sini
merujuk kepada hierarki sebagian dan keseluruhan, ketimbang hierarki taksonomis
atau hierarki tipe-aksibilitas, yaitu, satuan-satuan kecil umumnya terjadi
sebagai bagian dan satuan-satuan yang lebih besar lagi. Berkaitan dengan
bahasa, tuntutan bahwa bahasa-bahasa mempunyai tingkat-tingkat yang signifikan
dari segi struktur. Secara khusus, ujaran-ujaran linguistik dipandang
terstruktur, ujaran-ujaran linguistis dipandang dengan tiga hierarki yang
simultan dan saling mengunci: yaitu hierarki fonologis, dramatikal, dan referensial.
e. Teori tagmemik secara formal mengenal perspektif
pengamat yang bervariasi
Sekurang-kurangnya ada
tiga perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi yang dapat dipakai untuk
meninjau detail-detail yang sama. Dalam pandangan statis, butir-butir sebagai
benda-benda individual dan berbeda menjadi pusat perhatian. Pandangan dinamis
memusatkan perhatian pada dinamika butir-butir yang bertumpang-tidih,
bercampur, dan bergabung antara satu dengan lainnya. Terakhir perspektif
relasional yang memusatkan perhatian pada hubungan antara satuan-satuan, dengan
mamperhatikan jaringan, medan, atau matriks.
2. Konsep-konsep Dasar Tata Bahasa Tagmemik
a. Tagmem
Menurut Parera (2009:82) satuan analisis
tagmemik disebut tegmem atau hubungan antara sebuah gatra fungsional dengan
kelas dari unsur-unsur yang mengisi gatra tersebut. Satuan dasar dalam analisis tagmemik adalah tagmem. Menurut Elson dan Pickett (dalam Ba’dulu, 2005:114), tagmem adalah kolerasi fungsi gramatikal atau gatra
dengan kelas butir yang dapat saling menggantikan dalam mengisi gatra itu.
Menurut Longacre (dalam Ba’dulu, 2005:114) tagmem adalah
kolerasi antara gatra-gatra di mana baik fungsi maupun bentuk diberi nama
secara eksplisit. Konsep dari fungsi gramatikal, yang dikolerasikan dengan
seperangkat butir perwujudannya, merupakan satu konsep dari empat konsep dasar
dalam tagmemik.
Gatra adalah posisi
dalam kerangka kontruksi (sintagmem), yang menjelaskan peran dari bentuk
linguistik dalam konstruksi, yang berkaitan dengan bagian-bagian lain dari
konstruksi yang sama. Fungsi adalah hubungan gramatikal, yang menjawab
pertanyaan tentang apa yang dilakukan bentuk dalam konstruksi, dan diberi label
sebagai subjek, predikat, inti, modifikator, dan sebagainya.
Kelas pengisi adalah
daftar semua butir yang dapat saling mengisi jalur (gatra) fungsional.
Butir-butir ini dapat dipertukarkan satu sama lain. Dalam definisi, kelas
pengisi adalah suatu kelas distribusi, yang dalam banyak kasus, dalam banyak
hal, heterogen. Dalam kelas pengisi, sebuah kelas bentuk mungkin merupakan
pengisi eksklusif atau pengisi khusus. Khusus dalam sistem-sistem penciri
kasus, maka pengisi itu mungkin ditandai oleh kelas bentuk yang diberi ciri
oleh kasus nominatif.
b. Konstruksi (Sintagmem)
Sintagmem adalah
untaian tagmem yang potensial, yang gugus morfemnya mengisi gatra gramatikal.
Ada dua sistem utama untuk pemerian konstruksi, apa pun jenis satuan yang
digunakan. Yang pertama adalah jenis analisis berdasarkan konstituen langsung;
yang kedua adalah jenis analisis berdasarkan konstituen untaian. Dalam analisis
jenis untaian, ujaran dipenggal secara simultan ke dalam semua bagian
fungsionalnya. Dalam penggalan-penggalan ini, analisis dituntun oleh
pengetahuannya tentang fungsi. Dalam analisis konstituen langsung, ujaran
dipenggal secara berurutan ke dalam konstituen-konstituen biner. Dalam
melakukan penggalan-penggalan ini, analisis dituntun oleh pengetahuannya
tentang fungsi maupun oleh teori bahwa semua konstruksi terdiri atas dua
bagian.
c. Tingkat/Hierarki Gramatikal
Model ketatabahasaan
harus membatasi kesatuan yang masuk ke dalam konstruksi dengan jelas, dan
konstruksi ini harus diatur ke dalam beberapa jenis sistem ketatabahasaan.
Dalam tagmemik, kesatuan itu adalah tagmem, suatu kolerasi antara fungsi dan
bentuk; konstruksi adalah suatu tali potensial kesatuan-kesatuan tagmem, yaitu
sintagmem; dan sistem adalah hirarki ketatabahasaan, yang diatur dalam
serangkaian tingkat-tingkat sistematis.
d. Pemetaan (Mapping)
Menurut Pike, bahasa
dapat dideskripsikan dalam kaitannya dengan hierarki segi-tiga antara fonologi,
leksikon, dan tata bahasa. Dalam hierarki gramtikal, konstruksi disusun pada
rangkaian tingkat yang jelas. Tingkat-tingkat yang paling umum digunakan adalah
tingkat kalimat, tingkat klausa, tingkat frasa, tingkat kata, dan tingkat
morfem.
3. Organisasi Tata
Bahasa Tagmemik
Bahasa
tagmemik terdiri atas tiga komponen, yaitu komponen tata bahasa, komponen
leksikon, dan komponen fonologis. Komponen tata bahasa merupakan serangkaian
pernyataan sintaksis mengenai struktur kalimat, struktur klausa, struktur
frasa, dan struktur kata. Leksikon mendaftarkan satuan-satuan bentuk dari
bahasa, disertai dengan klasifikasi dan maknanya (glos), serta kaidah-kaidah
morfofologis untuk menjelaskan bentuk-bentuk morfem yang bervariasi. Terakhir,
komponen fonologis memberikan kepada kalimat fonemis realisasi fonetis dalam
bahasa tertentu.
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Menurut Ba’dulu di dalam bukunya yang berjudul
morfosintaksis terdapat 6 teori-teori sintaksis mutakhir, yaitu sintaksis
struktural, sintaksis tata bahasa generatif transformatif, sintaksis tata
bahasa kasus, sintaksis tata bahasa lexicase, sintaksis tata bahasa relasional,
dan sintaksis tata bahasa tagmemik.
Menurut Lyons
(1968:38-52), tata bahasa struktural pada umumnya dan sintaksis struktural pada
khususnya didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: (1) prioritas bahasa lisan,
(2) linguistik adalah ilmu pengetahuan deskriptif, (3) bukan preskriptif, (4)
linguis tertarik pada semua bahasa, (5) prioritas pemerian sinkronis, (6)
pendekatan structural, dan (7) langue dan parole. Menurut Chomsky, teori
linguistik struktural tidak mampu memecahkan berbagai masalah kebahasaan,
utamanya dalam bidang sintaksis. Chomsky memperkenalkan teori tata bahasa generatif transformasional (TGT) sebagai reaksi
terhadapnya.
Tarigan (2009:59) menyatakan bahwa tata bahasa kasus
adalah suatu modifikasi dari teori tata bahasa transformasi yang memperkenalkan
kerangka kerja konseptual hubungan-hubungan kasus dari tata bahasa tradisional,
tetapi memelihara serta mempertahankan pembedaan antara struktur permukaan dari
tata bahasa generatif (“dalam” berarti semantic deep). i Tata bahasa
lexiacse pertama dicetuskan oleh stanley starosta dalam bukunya the case for lexicase:an outline of lexicase gramatikal theory dalam tahun 1988.
Sebenarnya lexicase juga merupakan perkembangan lebih lanjut dari TGT.
Prinsip-prinsip tata bahasa
tagmemik: (1) bahasa sebagai tingkah laku
manusia, (2) semua tingkah laku purposif, termasuk bahasa,
muncul dalam satuan-satuan atau “kepingan-kepingan”,
(3) pentingnya konteks,
(4) hierarki, tonggak dari teori
tagmemik, dan (5) teori tagmemik secara formal
mengenal perspektif pengamat yang bervariasi.
3.2
Saran
Besar
harapan kami dari penulis agar apa yang telah kami paparkan dalam makalah ini
bisa bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi pembaca. Serta apa yang kami
sajikan dapat dipergunakan untuk kepentingan yang positif sehingga berdampak
baik bagi penulis maupun pembaca.
Dalam
penulisan makalah ini kami sebagai penulis merasa bahwa apa yang telah kami
sajikan masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya kami masih mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ba’dulu,
Abdul Muis dan Herman. 2005. Morfosintasis.
Jakarta: Rineka Cipta.
Parera,
JD. 2009. Dasar-dasar Analisis Sintaksis.
Jakarta: Erlangga.
Tarigan,
Henry Guntur. 2009. Pengajaran Tata
Bahasa Kasus. Bandung: Angkasa.
The latest footage of a smash-hit from the 1990s? : r/Videos - Vimeo
BalasHapusThe last download youtube videos movie I saw (video game) I'm afraid to put it down; I was thinking the following could sound as good a movie as it sounds.