Senin, 09 Juni 2014

TUGAS 9 SEMANTIK



Tugas : 9 “50 kata yang sama makna yang berbeda”
1.      Kurban dan Korban
Makna kurban yaitu persembahan kepada tuhan (seperti kambing, sapi, dan unta yang disembelih pada hari lebaran haji) atau pemberian untuk menyatakan kesetiaan atau kebaktian. Sedangkan, korban yaitu orang atau binatang yang menderita atau mati akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya.
2.      Lolos dan Lulus
Makna lolos yaitu keberhasilan melewati bahaya, rintangan, atau upaya  penangkapan. Sedangkan, lulus yaitu keberhasilan melewati ujian atau memenuhi persyaratan.
3.      Penglepasan dan Pelepasan
Makna Penglepasan yaitu  proses, tindakan, atau hal melepaskan. Sedangkan, pelepasan yaitu proses, cara, perbuatan.
4.      Mengakaji dan Mengaji
Makna Mengakaji yaitu mendaras (membaca) Alquran atau tadarus. Sedangkan, mengaji yaitu memeriksa, menyelidiki, memikirkan (mempertimbangkan dan sebagainya), menguji, menelaah.
5.      Hijrah dan Hijriah
Makna Hijrah yaitu perpindahan Nabi Muhammad saw dari mekah ke madinah. Sedangkan, hijriah yaitu berkenaan dengan tarikh Islam yang dimulai ketika Nabi Muhammad saw berpindah ke madinah.
6.      Sah dan Syah
Makna Sah yaitu sudah sesuai dengan hukum. Sedangkan, syah yaitu berarti raja.
7.      Kafan dan Kapan
Makna Kafan yaitu brmakna kain (putih) pembungkus mayat. Sedangkan, kapan yaitu tanya untuk menyatakan waktu.
8.      Fakta dan Pakta
Makna Fakta yaitu berarti suatu peristiwa yang benar-benar ada. Sedangkan, pakta yaitu berarti perjanjian.
9.      Folio dan Polio
Makna Folio yaitu ukuran kertas. Sedangkan, polio yaitu memiliki makna penyakit pada tulang.
10.  Sarat dan Syarat
Makna Sarat yaitu berarti penuh. Sedangkan syarat yaitu berarti ketentuan yang harus dipenuhi.
11.  Sair dan Syair
Makna Sair yaitu bermakna api neraka. Sedangkan syair yaitu berarti bentuk puisi lama.
12.  Termohon dan Pemohon
Makna Termohon yaitu orang yang dimintai permohonan. Sedangkan, pemohon yaitu berarti pihak atau orang yang memohon.
13.  Petinju dan Peninju
Makna Petinju yaitu berarti orang yang bertinju dan berkaitan dengan tindakan bertinju. Sedangkan, peninju yaitu berarti orang yang meninjau dan berkaitan dengan tindakan meninju.
14.  Sekali dan Sekali-kali
Makna Sekali yaitu satu kali. Sedangkan, sekali-kali yaitu bermakna sama sekali, sedikit pun, (tidak), atau sedikitpun jangan.
15.  Kebijakan dan Kebijaksanaan
Makna Kebijakan yaitu digunakan untuk menyatakan hal-hal yang menyangkut masalah politik atau strategi. Sedangkan, kebijaksanaan yaitu lazimnya berkaitan dengan masalah kearifan atau kepandaian seseorang dalam menggunakan akal budinya.
16.  Pemimpin dan Pimpinan
Makna Pemimpin yaitu makna orang yang memimpin dan petunjuk atau pedoaman. Sedangkan, pimpinan yaitu hasil dari proses memimpin atau dapat berarti kumpulan para pemimpin.

17.  Mengacuhkan dan Mencuaikan
Makna Mengacuhkan yaitu berarti menaruh perhatian. Sedangkan mencuaikan yaitu mengabaikan.
18.  Sesuatu dan Suatu
Makna Sesuatu yaitu bermakna barang yang kurang tentu. Sedangkan suatu yaitu bermakna satu, hanya satu (untuk menyatakan benda yang kurang tentu).
19.  Antar dan Antara
Makna Antar yaitu bentuk terikat dilingkungan atau hubungan yang satu dengan yang lain. Sedangkan antara yaitu jarak (ruang jauh) di sela-sela dua benda.
20.  Besok dan Esok
Makna Besok yaitu bermakna hari sesudah hari ini, esok hari. Sedangkan esok yaitu bermakna hari pertama sesudah hari ini, pada suatu waktu (yang akan datang).
21.  Penganggur dan Pengangguran
Makna Penganggur yaitu bermana orang yang menganggur (yang tidak mempunyai pekerjaan). Sedangkan, pengangguran yaitu bermakna hal atau keadaan menganggur.
22.  Bang dan Bank
Makna Bang yaitu untuk sapaan untuk kakak laki-laki. Sedangkan bank yaitu badan usaha di bidang keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang.
23.  Bros dan Berus
Makna Bros yaitu perhiasan terbuat dari emas, perak, dan sebagainya bermata intan (berlian, mutiara, dan sebagainya) yang disematkan pada pakaian (biasanya di bagian dada). Sedangkan berus yaitu sikat pakaian.
24.  Baju dan Busana
Makna Baju yaitu pakaian penutup badan bagian atas (banyak ragam namanya). Sedangkan, busana yaitu busana yang tidak terlalu mewah.




25.  Pertandingan dan Perlombaan
Makna Pertandingan yaitu berarti dua pihak yang berhadapan. Sedangkan,    perlombaan yaitu berarti kegiatan mengadu ketangkasan atau keterampilan atau suatu persainagan mendapatkan kualitas di atas yang lain
26.  Juara dan Pemenang
Makna Juara yaitu dipakai untuk orang atau regu yang menang bertanding atau berlomba ataupun orang terhebat dalam sesuatu (pelajaran dan sebagainya). Sedangkan, pemenang yaitu yang dapat dipakai untuk orang yang menang bertanding atau berlomba, tetapi tidak dapat untuk menyatakan orang terpandai di kelas.
27.  Kepala dan Kelapa
Makna Kepala yaitu bagian tubuh yang di atas leher (pada manusia dan beberapa jenis hewan merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indra). Sedangkan, kelapa yaitu tumbuhan palem yang berbatang tinggi,  buahnya tertutup sabut tempurung yang keras, di dalamnya terdapat daging yang mengandung santan dan air.
28.  Kumis dan Kamis
Makna Kumis yaitu bulu diatas bibir laki –laki. Sedangkan, kamis yaitu bermakna nama hari.
29.  Keledai dan Kedelai
Makna Keledai yaitu nama hewan. Sedangkan, kedelai yaitu jenis kacang –kacangan.
30.  Kurma dan Karma
Makna Kurma yaitu nama buah yang terdapat di Mekkah. Sedangkan, karma yaitu hukuman atau balasan.
31.  Tomat dan Tamat
Makna Tomat yaitu bermakna nama buah. Sedangkan, tamat yaitu berarti selesai dalam pendidikan.


32.  Ikat dan Ikut
Makna Ikat yaitu berarti tali untuk mengebat. Sedangkan, ikut yaitu menyertai orang berpergian.
33.  Bangga dan Bangsa
Makna Bangga yaitu besar hati. Sedangkan, bangsa yaitu kelompok masarakat yang sama garis keturunannya.
34.  Sampan dan Simpan
Makna Sampan yaitu alat transfortasi air. Sedangkan, simpan yaitu  menyimpan.
35.  Sapi dan Sepi
Makna Sapi yaitu nama hewan. Sedangkan, sepi yaitu jauh dari keramaian.
36.  Kambing dan Kembang
Makna Kambing yaitu nama hewan. Sedangkan, kembang nama bunga.
37.  Kumbang dan Kembang
Makna Kumbang yaitu bermakna serangga yang besar berwarna hitam berkilap warnanya. Sedangkan, kembang  yaitu bunga.
38.  Rumah dan Rambut”
Makna Rumah yaitu tempat untuk tinggal. Sedangkan, rambut yaitu mahkota yang terletak di kepala.
39.  Ubi dan Ibu
Makna Ubi yaitu jenis makanan. Sedangkan, ibu yaitu panggilan untuk orang tua perempuan.
40.  Rumit dan Tumit
Makna Rumit yaitu sulit. Sedangkan, tumit yaitu bagian belakang dari telapak kaki.
41.  Lengan dan Lengah
Makna Lengan yaitu bagian dari tangan didekat bahu. Sedangkan, lengah yaitu lalai.

42.  Rumah dan Ramah
Makna Rumah yaitu tempat tinggal. Sedangkan, ramah berarti baik hati dan menarik budi bahsanya.
43.  Rok dengan Rock
Makna Rok yaitu bermakna pakaian wanita bagian bawah. Sedangkan, rock yaitu bisa bermakna aliran musik.
44.  Genteng dengan Genting
Makna Genteng yaitu bisa bermakna benda penutup atau atap rumah. sedangkan, genting  yaitu bisa juga bermakna gawat.
45.  Ruas dan Luas
Makna Ruas yaitu bagian pembatas dari tebu. Sedangkan, luas yaitu berarti lebar.
46.  Pasar dan Pasir
Makna Pasar yaitu tempat orang berbelanja. Sedangkan, pasir yaitu bahan untuk membuat bangunan.
47.  Bulan dan Bulan 
Makna Bulan yaitu bisa bermakna waktu tiga puluh hari. Sedangkan, bulan bisa bemakna nama satelit bumi.
48.  Bisa dan Bisa
Makna Bisa yaitu bermakna mampu (kuasa melakukan sesuatu). Sedangkan, bisa juga bermakna zat racun yang bisa menyebabkan luka, busuk, dan mati bagi suatu yang hidup (bisa ular/kalajengking).
49.  Mental dengan Mental
Makna Mental yaitu bisa bermakna berhubungan dengan kejiwaan. Sedangkan, mental bisa bermakna terlempar keluar lapangan.
50.  Jangka dengan Jangka 
Makna Jangka yaitu bisa berarti alat untuk membuat bulatan. Sedangkan,  jangka bisa bermakna ukuran waktu tertentu.

TUGAS 7 SEMANTIK



Tugas 7: Mencari Makna Semantik Dalam Buku Pelajaran SMP Kelas VIII
Makna semantik yang terdapat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VIII semester 2 berdasarkan kurikulum 2004 dengan judul “ Bahasa dan Sastra Indonesia.” Pengarang Suharma dkk. Penerbit Yudhistira.
Halaman 138 : Aspek Kebahasaan
KD: Menguasai dan Menerapkan Kata yang Mengalami Pergeseran Makna
Indikator:   1. Jenis pergeseran makna adalah berikut ini.

Aspek Kebahasaan
Menguasai dan Menerapkan Kata yang Mengalami Pergeseran Makna
Sebelumnya kamu telah belajar menyampaikan persetujuan, sanggahan, atau penolakan pendapat dalam diskusi. Kalimat persetujuan, sanggahan, atau penolakan pendapat yang kamu sampaikan mungkin saja menggunakan kata yang mengalami pergeseran makna.
Perhatikan  contoh berikut!
Saya sependapat  dengan saudara Dira, permasalahan ketertiban lingkungan memang tanggung jawab kita bersama.
Kata saudara pada kalimat di atas mengalami pergeseran makna. Dulu kata saudara hanya berarti ‘orang yang seibu seayah atau memiliki hubungan darh’, sekarang saudara juga berarti’siapansaja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama’.
Faktor yang memengaruhi pergeseran makna di antaranya adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan sosial budaya, perbedaan bidang pemakaian, adanya asosiasi atau pertautan makna, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan, penyingkatan, proses gramatikal, dan adanya pengembang istilah.
Jenis pergeseran makna adalah berikut ini.
1)   Pergeseran makna meluas, yaitu makna yang abru lebih luas daripada makna yang lama. Contoh: kata ibu (dulu berarti ‘orang tua perempuan’, sekarang untuk menyebut semua perempuan yang kedudukannya lebih tinggi atau patut kita hormati ).
2)   Pergeseran makna menyempit, yaitu makna yang baru lebih sempit daripada makna yang lama. Contoh: kata sarjana (dulu berarti ‘setiap orang yang pandai’, sekarang untuk yang bergelar/lulusan perguruan tinggi).
3)   Pergeseran makna amelioratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih halus daripada makna yang lama. Contoh: kata pramuwisma (dianggap lebih lhalus daripada kata pembantu).
4)   Pergeseran makna peyoratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih kasar daripada makna yang lama. Contoh: kata bini (dianggap lebih kasar daripada kata istri ).
5)   Pergeseran makna sinestesia, yaitu perubahan atau pergeseran makna akibat penukaran indra. Contoh: kata manis untuk indra pencecap bertukar dengan indra penglihatan, yaitu pada kalimat Gadis itu manis.
6)   Pergeseran makna karena asosiasi (pertautan makna), yaitu dipertautkan dengan hal-hal lain. Contoh: kata amplop yang berarti ‘alat untuk menyampul surat’, bisa juga berarti ‘untuk membungkus uang sogok’.
Perubahan total, yaitu pergeseran makna yang berubah secara total. Contoh: kata ceramah dulu berarti ‘cerewet’, sekarang bearti ‘pidato’.

Senin, 26 Mei 2014

TUGAS SEMANTIK KE-8 FITRI HANI/ KELAS 6C/ 116211377



Mengapa Allah Sesekali menyebut dirinya AKU dan KAMI?

Allah menggunakan sebutan Aku, ketika Ia berkata mengenai Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan Yang menguasai segala sesuatu, tanpa melibatkan makhluk-Nya yang lain. Kemudian Allah menggunakan sebutan Kami pada kesempatan lain, Itu artinya Allah melibatkan makhluk-Nya yang lain (misalnya para malaikat yang membawa dan menjalankan perintah-Nya). Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan contoh akhlak yang sangat mulia dari Tuhan Yang Maha Tinggi bagi para manusia yang tidak berdaya. Seperti dalam surat Albaqoroh ayat 30 dan 38 berikut ini:
 وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ يَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَفِيْهَا وَ
Artinya:
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". 

TUGAS INDIVIDU KE-3 SINTAKSIS



Nama    : Fitri Hani
Npm     : 116211377
Kelas    : 6C





Ket:
FN        : Frasa Nomina
Demon  : Demonstrativa/ kata penunjuk
FV         : Frasa Verba

Senin, 12 Mei 2014

Tugas 6 Semantik (FITRI HANI KELAS 6C)



1.      Berdasarkan alquran
 Jalan yang lurus, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat bahagia di dunia dan di akhirat.
2.      Berdasarkan hadist
  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus

"Ihdi": Pimpinlah, tunjukilah, berilah hidayah  Arti "hidayah" ialah: Menunjukkan sesuatu jalan atau cara menyampaikan orang kepada orang yang ditujunya dengan baik. Macam-macam hidayah (petunjuk)  Allah telah memberi manusia bermacam-macam hidayah, yaitu:
1. Hidayah naluri (garizah)
Manusia begitu juga binatang-binatang, dilengkapi oleh Allah dengan bermacam-macam sifat, yang timbulnya bukanlah dari pelajaran, bukan pula dari pengalaman, melainkan telah dibawanya dari kandungan ibunya. Sifat-sifat ini namanya "naluri", dalam bahasa Arab disebut "garizah".

2. Hidayah Pancaindra
Karena garizah itu sifatnya belum pasti sebagai disebutkan di atas, maka ia belum cukup untuk jadi hidayah bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Sebab itu oleh Allah swt. manusia dilengkapi lagi dengan pancaindra. Pancaindra itu sangat besar harganya terhadap pertumbuhan akal dan pikiran manusia.

3.      Hidayah akal (pikiran)
Akal dan kadar kesanggupannya dengan adanya akal itu dapatlah manusia menyalurkan garizah ke arah yang baik agar garizah itu menjadi pokok bagi kebaikan, dan dapatlah manusia membetulkan kesalahan-kesalahan pancaindranya, membedakan buruk dengan baik. Malah sangguplah dia menyusun mukadimah untuk menyampaikannya kepada natijah, mempertalikan akibat dengan sebab, memakai yang mahsusat sebagai tangga kepada yang ma'qulat, mempergunakan yang dapat dilihat, diraba dan dirasai untuk menyampaikannya kepada yang abstrak, maknawi dan gaib, mengambil dalil dari adanya makhluk untuk adanya khalik, dan begitulah seterusnya.

4.      Hidayah agama
Karena hal-hal yang disebutkan itu, maka diutuslah oleh Allah rasul-rasul untuk membawa agama yang akan menunjukkan kepada manusia jalan yang harus mereka tempuh untuk kebahagiaan mereka dunia dan akhirat. Adalah yang mula-mula ditanamkan oleh rasul-rasul itu kepercayaan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya, guna membersihkan iktikad manusia dari kotoran syirik (mempersekutukan Tuhan).
Rasul membawa manusia kepada kepercayaan tauhid itu dengan melalui akal dan logika, yaitu dengan mempergunakan dalil-dalil yang tepat dan logis. (Ingatlah kepada soal-jawab antara Nabi Ibrahim dengan Namruz, Nabi Musa dengan Firaun, dan seruan-seruan Alquran kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka mempergunakan akal). Berhubung Muhammad saw. adalah seorang nabi penutup maka syariat yang dibawanya, diberi oleh Tuhan sifat-sifat tertentu agar sesuai dengan segala masa dan keadaan.
Hidayah yang dimohonkan kepada Tuhan  Agama Islam sebagai hidayah dan senjata hidup yang penghabisan, atau jalan kebahagiaan yang terakhir, telah dianugerahkan Tuhan, tetapi adakah orang pandai mempergunakan senjata itu, dan adakah semua hamba Allah sukses dalam menempuh jalan yang dibentangkan oleh Tuhan. Tidak banyak manusia yang pandai menerapkan agama, beribadat (menyembah Allah) sebagai yang diridai oleh yang disembah, bahkan pelaksanaan syariat tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh Pembuat syariat itu.
Karena itu kita diajari Allah memohonkan kepada-Nya agar diberi-Nya ma`unah, dibimbing dan dijaga-Nya selama-lamanya serta diberi-Nya taufik agar dapat memakai semua macam hidayah yang telah dianugerahkan-Nya itu menurut semestinya. Garizah-garizah supaya dapat disalurkan ke arah yang baik, pancaindra supaya berfungsi betul, akal supaya sesuai dengan yang benar, tuntunan-tuntunan agama agar dapat dilaksanakan menurut yang dimaksud oleh yang menurunkan agama itu dengan tidak ada cacat, janggal dan salah. Tegasnya manusia yang telah diberi Tuhan bermacam-macam hidayah yang disebutkan di atas (garizah-garizah, pancaindra, akal dan agama) belum dapat mencukupkan semata-mata hidayah-hidayah itu saja, tetapi dia masih membutuhkan ma`unah dan bimbingan dari Allah (yaitu taufik-Nya). Maka ma`unah dan bimbingan itulah yang kita mohonkan dan kepada Allah sajalah kita hadapkan permohonan itu.
Dengan perkataan lain, Allah telah memberi kita hidayah-hidayah tersebut, tak ubahnya seakan-akan Dia telah membentangkan di muka kita jalan raya yang menyampaikan kepada kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi, maka yang dimohonkan kepada-Nya lagi ialah "membimbing kita dalam menjalani jalan yang telah terbentang itu". Dengan ringkas hidayah dalam ayat "ihdinassiratal mustaqim" ini berarti "taufik" (bimbingan), dan taufik itulah yang dimohonkan di sini kepada Allah.
Taufik ini dimohonkan kepada Allah sesudah kita berusaha dengan sepenuh tenaga, pikiran dan ikhtiar, karena berusaha dengan sepenuh tenaga adalah kewajiban kita, tetapi sampai berhasil sesuatu usaha adalah termasuk kekuasaan Allah. Dengan ini kelihatanlah pertalian ayat ini dengan ayat yang sebelumnya. Ayat yang sebelumnya Allah mengajari hamba-Nya supaya menyembah memohonkan pertolongan kepada-Nya, sedangkan pada ayat ini Allah menerangkan apa yang akan dimohonkan, dan bagaimana memohonkannya.
Maka tak ada pertentangan antara kedua firman Allah tersebut dan firman Allah yang ditujukan kepada Nabi yang berbunyi:
  
5.      وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Q.S Asy Syura: 52)
Dan firman-Nya:
 
6.      إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Artinya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S Al Qasas: 56)
Sebab yang dimaksud dengan hidayah pada ayat pertama, ialah menunjukkan jalan yang harus ditempuh, dan ini memang adalah tugas nabi. Tetapi yang dimaksud dengan hidayah pada ayat kedua ialah membimbing manusia dalam menempuh jalan itu dan memberikan taufik agar sukses dan berbahagia dalam perjalanannya, dan ini tidaklah masuk dalam kekuasaan Nabi, hanya adalah hak Allah semata-mata.
7.      الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)

Artinya:
Jalan yang lurus (yang menyampaikan kepada yang dituju). (Q.S Al Fatihah: 6)
Apakah yang dimaksud dengan jalan lurus itu? Di atas telah diterangkan bahwa rasul-rasul telah membawa `aqaid (kepercayaan-kepercayaan) hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak, dan pelajaran-pelajaran. Pendeknya telah membawa segala sesuatu yang perlu untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Maka aqaid, hukum-hukum, peraturan-peraturan, akhlak dan pelajaran-pelajaran itulah yang dimaksud dengan jalan lurus itu, karena dialah yang menyampaikan manusia kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai disebutkan.
Jadi dengan menyebut ayat ini seakan-akan kita memohon kepada Tuhan: "Bimbing dan beri taufiklah kami, ya Allah dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama kami. Betulkanlah kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan kepercayaan kami. Bimbing dan beri taufiklah kami dalam melaksanakan hukum, peraturan-peraturan, serta pelajaran-pelajaran agama kami. Jadikanlah kami mempunyai akhlak yang mulia, agar berbahagia hidup kami di dunia dan akhirat".